Posted by: krisantusardy | August 30, 2010

WARGA ASING YANG MENCINTAI NEGERI KITA

Bulan Agustus  identik dengan perayaan hari ulang tahun  negeri kita  tercinta.  Tapi seberapa  besarkah  cinta kita  pada  negeri  ini?   Mari kita   berkaca  pada  nara sumber  Kick Andy  kali ini, sejumlah   warna  negara  keturunan  asing  yang   telah  membuktikan kecintaannya  pada  Indonesia.
Seorang  wartawan  lepas   asal  Perancis,  Elizabeth  D. Inandiak, menginjak tanah Jawa pertama kali pada 1988. Saat itu ia menjadi wartawan lepas dan bertugas menulis tentang islam dan kebatinan. Dimata  Elizabeth,  Jawa  adalah  tempat  eksotis  yang  bisa membawanya  ke  masa kanak-kanak  yang indah . Tak heran bila  ia  jatuh cinta dan  hingga tahun 1990 ia memilih bolak-balik antara  Yogyakarta dan  Paris,  lalu kemudian menikah  dan  memiliki seorang  putri.
Kecintaan  pada negeri  ini, terutama  tanah Jawa,  semakin  kuat, ketika tahun 1991 Elizabeth mengetahui tentang  kitab  Serat Centhini. Saat itu, ibunya datang ke Indonesia dengan membawa 3 buku dan salah satunya adalah karya Denys Lombard, Le Carrefour Javanais,  yang  sekilas memuat  soal   Serat Chentini.

Serat Centhini adalah karya sastra besar dari khazanah kesusastraan Jawa, yang ditulis pada tahun 1742 Jawa atau 1814. Sebagai karya besar, Serat Centhini bisa dikatakan menjadi salah satu kitab yang paling tersembunyi di antara berbagai kitab klasik lainnya. Mungkin karena politik kekuasaan dari keraton, karena kitab ini sesungguhnya berbeda dengan lazimnya kitab-kitab klasik lain. Serat Centhini tidak berisi babad atau cerita tentang kejayaan keraton, tetapi justru kisah pengembaraan kaum pembangkang musuh-musuh keraton.
Elizabeth   tertantang  untuk  mengetahui  lebih  banyak tentang karya  sasrta  ini,  lalu  dengan  bantuan seorang  ahli  sastra  jawa  kuno,  maka ia  mulai menterjemahkannya. Dan kini,  Serat  Chentini sudah ia terbitkan dalam  berbagai bahasa, yakni bahasa Indonesia, Perancis, Dan Inggris.
Tak  cukup  sampai menterjemahkan, Elizabeth  juga memperkenalkan karya satra  ini  ke berbagai  negara  dengan cara  mementaskan   Serat  Chentini  bersama sejumlah  seniman  Jawa. Tak puas hanya dengan Serat Centhini, ia berencana menulis ulang karya sastrawan Jawa, Ronggowarsito. Elizabeth juga sempat menulis beberapa buku, seperti The White Banyan, Lahirnya Kembali Beringin Putih, pada 1998.
Elizabeth  mengaku  bahwa  Indonesia kini sudah  seperti negeranya,  “Meski  saya tidak lahir di  Indonesia, tapi saya  melahirkan di Indonesia  dan  menanam ari-ari putri saya  di sini,” ujarnya.
Kecintaan pada Indonesia  juga  ditujukan oleh  seorang  pria  asal  Belanda,  Willie  Smits.  Ia  mendapatkan gelar ahli  hutan tropis (tropical forestry) dan ahli Ilmu Tanah (soil science) dari Agricultural University of Wageningen, Belanda. Ia mengerjakan tesis doktoral dan risetnya di Balikpapan, Kalimantan Timur. Dan   yang  dilakukannya  sejak  tahun 1985 sampai sekarang  adalah   mengabdi  untuk   alam di Indonesia.  Bahkan  selama  20 tahun,  ia  telah  bekerja   untuk  keselamatan  dan kelestarian orang utan yang hampir punah.
Willie Smits menunjukkan kecintaan  pada Indonesia  dengan perhatiannya yang besar  pada  kelestarian alam. Ia adalah salah satu pembela orangutan dan habitat alami. Selain itu, ia juga merupakan penemu bidang kehutanan yang menciptakan revolusi pada teknik dan kebijakan reboisasi di seluruh dunia. Sebagai pendiri Borneo Orangutan Survival Foundation, ia secara konsisten bekerja menangani akar masalah penggundulan hutan dengan berfokus pada hubungan antara dunia binatang, planet yang kita tempati, dan manusia. ”Orang utan itu  sangat  membantu   proses  regenerasi hutan kita, makanya mereka  perlu dilestarikan,” katanya.
Tak heran  jika kemudian   Willie  pernah  mendapat penghargaa Satya Lencana Pembangunan Award (1998).   Dan  Willie  adalah  orang asing pertama yang menerima penghargaan ini.  Tahun  2009  lalu,  ia juga pernah  mendapat penghargaan  Ashoka Fellowship  di bidang Lingkungan Hidup.
Willie yang  juga di penasihat senior untuk Kementerian Kehutanan ini mengaku  sudah mencintai  Indonesia  melebihi negara kelahirannya,  kini sudah  31 tahun ia tinggal  dan mengabdi bagi  kelestarian alam di negeri ini. “Saya  bahkan  bisa  mengalami culture shock jika kembali menetap di Belanda,”  tuturnya.
Tak hanya  sebatas urusan  orang utan,  suami  dari Linneke Syennie Watoelangkow  ini juga  menjadi  penggerak  sejumlah  gerakan sosial  berbasis lingkungan,  salah satunya  adalah mendirikan Masarang Foundation. Sebuah lembaga  yang mengumpulkan uang dan menggugah kesadaran masyarakat untuk mengembalikan habitat hutan diseluruh dunia dan memberdayakan masyarakat lokal. Willie juga termasuk  orang yang mendesign pusat Primata Scmutzer di Ragunan yang dibuka tahun 2002.
Dari Pulau Lombok,  Kick  Andy  memperkenalkan  Gavin Birch atau  yang kini lebih dikenal sebagai Husin Abdullah. Laki-laki kelahiran Selandia Baru ini mengganti namanya ketika ia memutuskan menjadi seorang mualaf di tahun 1976. Walau lahir di Selandia Baru, Husin Abdullah tumbuh dan besar di negara Australia. Ia bahkan menempuh pendidikan sekolah Guru di negara tersebut.
Seringnya  ia memiliki kesempatan  untuk berkunjung ke  Indonesia termasuk wilayah  Lombok, yang  menurutnya  sangat menyenangkan. Husin Abdullah mengenal tanah Lombok sejak tahun 1983, namun  baru di tahun 1986 Husin memutuskan untuk menetap di Lombok.
Salah  satu  alasan  mengapa Husin memutuskan untuk menetap di Lombok adalah karena ia merasa prihatin melihat kondisi masyarakat Lombok yang miskin dan hidup dalam lingkungan yang kotor.
Husin   juga  pernah merasa  prihatin  dengan  perilaku  warga sekitar yang  tak mengenal kakus. Maka ia sempat menjual rumahnya  di Australia dan   membangunkan sejumlah kakus di pinggir Pantai Desa Batu Layar. Tapi sayang, kakus itu  tidak dirawat dengan baik, hingga  sekarang  sudah rusak.
Cita-cita  untuk membantu membersihkan wilayah  L. Ia mulai  dengan inisiatif pribadinya. Tak heran jika kita  melihat  Gavin  Birch atau  Husin  memunguti setiap  sampah  di tempat-tempat wisata atau di jalan-jalan utama.  Kadang ia  membawa mobil bak sendiri atau mengangkutnya dengan  motor.
Pada perjalanannya, Husin  kemudian  mengajak  masyarakat dan   mengajarkan pada mereka  cara  mengolah sampah yang  baik. . “Awalnya saya jalan sendiri atas inisiatif pribadi, kemudian dibantu oleh beberapa teman. Kami mendirikan program ‘Cinta Lingkungan Lombok’. Program tersebut berjalan selama lima belas tahun, dan kemudian di tahun 2000 dibentuklah sebuah yayasan bernama Yayasan Sosial Cinta Lingkungan Lombok-Sumbawa,” katanya.
Selama 24 tahun bergerak dalam urusan sampah tidak membuat laki-laki yang kini berusia 69 tahun ini bosan. Selama itu pula, Husin Abdullah mengaku akan terus  berupaya untuk menjadikan Indonesia Bersih dan Hijau, meski  jelas-jelas   inii   bukanlah negaranya.
Sementara itu  dari Jakarta,  perkenalkan  Dan Roberts seorang  pemuda asal  Texas  Amerika  Serikat.  Dia  menjadi  guru  sirkus  dan  badut   untuk anak-anak miskin di Clincing,  Jakarta  Utara.
Dan pernah tinggal selama 6 tahun di Jakarta dan sekolah di Jakarta Internasional School (JIS) dari tahun 1994 – 2002. Ketika tinggal di Jakarta, ia  sempat   melihat kehidupan anak-anak jalanan di Jakarta yang benar-benar miskin.
Pada 2002, setelah menyelesaikan studinya di JIS, Dan kembali ke Chicago, Amerika Serikat, untuk meneruskan kuliah dan mengambil jurusan teater di Roosevelt University’s Chicago College of Performing Arts. Di sinilah dia belajar tentang badut.
Setelah lulus, Dan bekerja untuk berbagai macam circus seperti: Circus Smirkus, Cirque du Soleil’s Cirque du Monde and Chicago’s CircEsteem. Di Chicago, Dan sempat terlibat dalam sejumlah aksi sirkus sebagai badut yang beratraksi juggling.
Aktivitas ini membawanya kepada Moshe Coen, pendiri Clown Without Borders, organisasi internasional beranggotakan badut profesional dengan motto “We send laughter around the world” yang mengadakan pertunjukan sirkus secara gratis kepada mereka yang mengalami musibah di seluruh dunia. Organisasi nirlaba ini berkeliling dunia menghibur anak-anak kurang mampu dengan atraksi badut. Atas saran Coen, Dan yang punya kecintaan akan Indonesia kemudian mendirikan Hidung Merah di Indonesia.
Pada Februari 2008, Dan kembali ke Jakarta bersama kelompok Clown Without Borders. Tak disangka, penampilannya bersama kelompok itu di sebuah rumah berukuran kurang dari 8 meter persegi di daerah Cilincing, mendapat apresiasi luar biasa. “Lebih dari 100 orang dalam ruangan sekecil itu. Dan ini menjadi tontonan menarik karena anak-anak belum pernah lihat,” kenang Dan.
Maka Dan  memutuskan  untuk kembali  menetap di Indonesia, khususnya  di Jakarta.  Kini ia mengajar  anak-anak  pengupas  kulit kerang itu  bermain sirkus dan beraktraksi  juggling.   Tak  hanya   itu,  pemuda berusia  25 tahun itu, bersama yayasan  ”Hidung Merah” nya  kemudian memberikan pendidikan informal  lainnya, seperti kelas bahasa inggris.
Inilah sebuah kisah nyata khusus  tentang  bagaimana  warga –warga asing yang mencintai   negeri  kita dengan caranya  masing-masing.  Selamat  merenungkan nasib Indonesia.

Nara Sumber: Kick Andy


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: