Posted by: krisantusardy | August 30, 2010

If you want to be loved, make yourself loveable

Eko Ramaditya Adikara

Eko Ramaditya Adikara adalah seorang arranger untuk musik-musik game,  tidak ada yang menyangka kalau seorang tunanetra seperti Ramaditya ternyata dapat menjadi arranger bahkan juga membuat sebuah web blog. Dengan mottonya yaritu ”If you want to be loved, make yourself loveable”, Rama tampak begitu ringan menjalani hidupnya.

Sudah sejak kecil Rama dimasukkan ke sekolah luar biasa oleh kedua orangtuanya. Mulai dari TK luar biasa di daerah Semarang. Tetapi kemudian setelah pindah ke Jakarta, ia masuk ke sebuah TK umum (TK Mekar Indah) yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah. Di TK inilah, saya belajar sedikit mengenai tulisan latin, huruf dan angka. Hasilnya, sekarang ia dapat membaca/menulis huruf latin meskipun hanya untuk huruf capital saja.
Pada tahun 1987, awalnya dibawa ke sebuah SLB di kawasan Lebak Bulus – Jakarta Selatan.
Mulanya Rama dititipkan di asrama penyandang cacat Tunanetra – Tan Miyat, namun karena usia yang masih terlalu kecil untuk dapat hidup mandiri, maka orangtuanya kemudian memutuskan untuk menunda niat itu. Akhirnya, ia pun resmi masuk sebagai murid SLB/A Pembina Tingkat Nasional. Bahkan Rama sempat tinggal di rumah salah seorang gurunya, Ibu Lilis, untuk belajar baca tulis braille. Karena orangtuanya masih belum tega, terkadang ia dijemput dan dibawa pulang setiap satu hari, padahal orangtuanya sepakat untuk menjemput Rama tiap seminggu sekali.

Tamat SD, Rama melanjutkan pendidikannya di SMP Negeri 226 – Jakarta. Rama akhirnya bisa dapat bersekolah di SMP 226 dengan perjuangan panjang. Orangtua dan guru-gurunya di SLB/A berjuang untuk mewujudkan keinginan itu dengan meminta SK pada Depdikbud yang menyatakan bahwa penyandang cacat Tunanetra mampu bersekolah di sekolah normal. Ayahnya sampai harus bertengkar dengan kepala sekolah SMU 70 (Rayon sekolah yang dituju) untuk mempertahankan bahwa Rama mampu bersekolah di sekolah umum. “Bisa!”, itulah jawaban yang diberikan ayahnya ketika Kepala Sekolah meragukan kemampuannya. Akhirnya, iapun diterima di SMPN 226 yang letaknya sekitar 1 kilo dari sekolah awal.
Dengan bantuan Sandra, salah seorang temannya, Rama semakin memiliki banyak teman dan membantunya mengenali sekolah barunya. Bahkan Rama berhasil meraih peringkat 7 dari sekitar 500 siswa dalam ujian Penataran P4.
Pendidikan dijalani seperti biasa, hanya saja ada beberapa pengecualian, pada beberapa pelajaran memerlukan perhatian khusus, seperti IPA dan Fisika, ia tidak dapat mengikutinya dengan baik karena tidak dapat melihat, jadi guru mata pelajaran yang bersangkutan bekerja sama dengan pihak SLB/A untuk memberi model pendidikan terpadu.
SMA pun dijalaninya di sekolah umum, yaitu Madrasah Aliyah Negeri 11 jakarta. Dengan tujuan untuk mendapat ilmu agama lebih banyak. Selain itu banyak senior tunanetra yang sudah bersekolah disana sehingga guru-gurunya menjadi lebih familiar. Sedangkan kuliahnya dilalui di Universitas Darma Persada, Jakarta.
Awalnya Rama mencoba mengikuti UMPTN, namun gagal karena salah langkah dalam menentukan jurusan (Memilih Hubungan Internasional). Setelah itu, ia mencoba mendaftar ke Universitas Darma Persada dan memilih jurusan Sastra Inggris S1. Pihak universitas bahkan sempat mengembalikan uang pendaftaran dengan alasan: Universitas tidak memiliki/menyediakan sarana penunjang bagi Tunanetra. Mendengar hal itu, kedua orangtuanya bersikeras untuk terus maju. Akhirnya, bersama kedua orangtuanya Rama  menemui Kepala jurusan Inggris hingga akhirnya saya diijinkan mengikuti tes masuk dan berhasil diterima sebagai mahasiswa baru.
Mengenai ketertarikannya dengan komputer, Rama sudah sejak kecil mengenal komputer. Hanya saja pada saat itu pengertiannya akan komputer masih bias antara mesin game, mesin hitung, dan mesin untuk menulis surat. Rama menjadi sangat tertarik dengan komputer karena imajinasinya yang saat itu senang menonton film kartun futuristik yang mengetengahkan komputer di dalam ceritanya, atau karena tetangga yang saat itu memiliki Atari Street, sebuah komputer yang juga berfungsi sebagai mesin game yang dirilis oleh Atari (1986). Jika ditanyakan cita-citanya saat itu maka jawabannnya adalah ”ingin menjadi ahli komputer”.
Rama semakin mencintai komputer saat mulai bersekolah di SLB (SD), dan setiap minggu sehabis pulang dari asrama, ia diajak ke kantor ayahnya. Saat itulah Rama mulai mengenal game-game komputer berbasis DOS (Disk Operating System). Rama juga mulai mengenal nama-nama aplikasi pengolah kata dan data seperti Lotus 123, WordStar, Dbase, dan beberapa bahasa pemrograman, meskipun pada saat itu ia hanya mengenal nama tanpa tahu banyak mengenai fungsinya (lebih tertarik pada game).
Baru pada 1994, saat bergabung dengan Yayasan Mitra Netra, Rama mengenal adanya komputer bicara, yaitu seperangkat komputer biasa yang diperlengkapi dengan peralatan khusus yang membuatnya dapat mengeluarkan suara. Cara kerjanya; perangkat keras dan perangkat lunak khusus yang terpasang di komputer tersebut mengkonversi/menterjemahkan teks atau obyek yang muncul di layar monitor dalam bentuk suara. Di Mitra Netra itulah Rama banyak mempelajari DOS dan beberapa aplikasi dasar pengolah kata dan data seperti WordStar, WordPerfect, Lotus 123, Dbase, dan sejumlah aplikasi lain. Aplikasi pengolahan kata ini banyak digunakan Rama karena ia memang menyukai dunia tulis menulis.
Bahkan pernah pada tahun 1996, Silvia, salah seorang mahasiswi yang sedang mengadakan penelitian di asrama tempat Rama tinggal merasa kagum saat melihatnya membukukan buku harian dalam format dokumen WordStar. Setelah lulus dan bekerja sebagai sekretaris, secara pribadi Silvia mengajari Rama berbagai teknik penguasaan keyboard, termasuk shortcut dan teknik mengetik 10 jari. Dalam jangka waktu kurang dari 2 bulan, Rama telah berhasil menguasai teknik mengetik 10 jari dengan lancar. Hingga saat ini, ilmu yang diwariskan Silvia telah berhasil membuatnya mampu mengetik sebanyak 60 kata (Indonesia/Inggris) dalam waktu 1 menit.
Tahun 1998, Rama mulai belajar pengoperasian Windows. Saat itu, ia baru mengetahui bahwa komputer bicara pun dapat diwujudkan dengan teknologi sekarang, dan tak perlu membeli perangkat khusus. Cukup memasang soundcard dan speaker pada komputer, lalu memasang software pembaca layar (screen reader). Produk pembaca layar yang sangat populer dan juga digunakannya hingga saat ini adalah JAWS (Job Access With Speech).
Rama juga menguasai perangkat keras (hardware), baik komputer maupun notebook. Melalui buku-buku dan majalah komputer, ia banyak mempelajari berbagai pengetahuan seputar komputer. Bahkan Rama juga mulai mencoba merakit komputer sendiri, tak jarang dimintai tolong oleh kenalan yang ingin memperoleh komputer harga miring dengan konfigurasi lumayan. Mengoperasikan dan belajar perangkat lunak pada Windows merupakan kegemarannya. Hambatannya sebagai tunanetra adalah soal kompatibilitas pembaca layar terhadap perangkat lunak. Tak semua perangkat lunak dapat dibaca atau dikenali oleh pembaca layar. Biasanya ia menghafal shortcut atau mencari skrip pembaca layar — lewat internet — yang sengaja dibuat orang yang ingin membantu tunanetra menggunakan aplikasi tertentu. Skrip tersebut nantinya di-import sehingga pembaca layar dapat mengenali aplikasi yang sedang dijalankan.
Saat belajar tentang hardware komputer pun, Rama masih harus mengandalkan perabaannya. Kemudian membedakan kabel-kabel yang berlainan warna, yaitu mengakalinya dengan memberi tanda berupa stiker atau tanda pengenal yang dapat diraba dan dijadikan sebagai penanda. Tentu saja, kejadian-kejadian seperti tersengat alus listrik, meledakkan prosesor, atau salah memasukkan hardware pernah dialaminya.
Sedangkan selama ini cara Rama membaca adalah dengan merekam buku-buku pelajaran sekolah ke bentuk kaset sehingga ia dapat memperoleh informasi yang ada dalam media cetak dengan cara mendengarkan kaset tersebut.
Kini, Rama sudah dapat membaca media cetak sendiri, caranya adalah dengan menggunakan scanner dan memanfaatkan teknologi OCR (Optical Character Recognition), yaitu teknik memindai tulisan di buku menjadi teks dengan cara melakukan scan pada media cetak, dan hasilnya dapat disimpan dalam format teks atau MS-Word, yang dapat dibaca oleh screen reader.
Kisah hidup Rama kian menarik ketika kesukaannya pada games, membawanya terlibat dalam penataan musik Nintendo untuk video games Super Smash Brothers Brawl yang dirilis 10 Februari 2008. Sejak itu dia rajin menggubah musik. Karya komposisi musik yang sudah dibuatnya lebih dari seratus buah. Tiga di antaranya dipakai untuk tema lagu permainan Final Fantasy VII, sebuah permainan buatan Jepang yang sangat terkenal di kalangan pencinta games komputer, termasuk Indonesia.
Pada 2003, Rama menciptakan dan mendirikan www.ramaditya.com, blog yang dia ciptakan dan desain sendiri. Blog ini dilengkapi musik latar yang juga digubahnya sendiri. Bagaimana dia bisa bekerja di atas laptop yang selalu dibawa ke mana pun dia pergi.”Saya meninggalkan huruf Braille sejak sepuluh tahun lalu saat teknologi pembaca layar (screen reader) hadir. Bagi saya itu sebuah revolusi. Sampai sekarang praktis saya tidak menggunakan Braille lagi. Saya bisa membaca buku atau menulis di komputer seperti mereka yang berpenglihatan normal,” kata Rama, yang baru tahu kalau dirinya tunanetra pada umur tujuh tahun.
Tahun lalu Rama membuat sebuah buku otobiografi yang berjudul ‘BLIND POWER’: Berdamai dengan Kegelapan. Buku ini berisi kisah hidup, aktivitas, talenta, dan keteguhan hati Rama, yang diharapkan dapat memberi inspirasi bagi pembacanya. Melalui buku ini, orangtua yang mempunyai anak diffable bisa memberikan contoh yang baik bagaimana mereka seharusnya mendidik dan membesarkan anak dengan kemampuan khusus ini. Bagi orang kebanyakan seperti kita, buku ini dapat menjadi penggugah motivasi, pemberi semangat juang, dan penyentuh rasa syukur. Rama yang tuna netra saja mampu melakukannya, masa kita tidak.
Rama memiliki banyak talenta yang sulit di bayangkan jika tidak melihatnya secara langsung. Rama dapat bepergian kemana-mana sendirian dengan angkutan umum. Karena dia telah belajar orientasi lapangan. Bahkan dia dapat mengetahui arah mata angin dari hembusan angin.  Rama pernah mengalami pengalaman yang tidak mengenakkan saat berdesakan di bus kota, secara tidak sengaja dia menyentuh gunung kembar seorang ibu. Tak ayal, si ibu menonjok Rama. Setelah tahu Rama seorang tuna netra akhirnya si ibu malah minta maaf.
Rama sendiri adalah pecandu berat musik game sehingga bagi orang lain terlihat seperti “freak”. Yang lucunya dia dapat menikmati acara menonton di bioskop. Bahkan dia sempat menonton Kungfu Panda 3 kali.
Rama saat ini sering diminta menjadi motivator. Sudah banyak perusahaan dan sekolah yang memintanya. Di antaranya Prudential, Yayasan Al Azhar, dan Direct English.
Rama juga belajar beladiri di Merpati Putih. Di sini kemampuan batinnnya semakin terasah.
Rama juga suka ngeblog. Dia punya blog di Multiply dan blog berbayar. Rama bisa melayani setiap komentar dengan baik. Bahkan dia dapat mengoreksi ejaan yang salah di blog orang lain.
Rama sempat diutus mewakili Indonesia dalam pertemuan tuna netra Asia di Thailand. Pada satu sesi Rama bertanya dalam bahasa Inggris yang sangat fasih. Pendengaran Rama memang luar biasa, sehingga dia mampu menirukan pelafalan bahasa Inggris laksana native speaker.

Published: 25 Feb 2010 10:27:00 WIB by:kickandy


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: